Service95 Logo
Issue #002 Mengapa kita perlu menghapus kata ‘pemberdayaan’ – dan fokus pada daya sebagai gantinya
Issue #002 Mengapa kita perlu menghapus kata ‘pemberdayaan’ – dan fokus pada daya sebagai gantinya
Issue #002 Mengapa kita perlu menghapus kata ‘pemberdayaan’ – dan fokus pada daya sebagai gantinya
Issue #002 Mengapa kita perlu menghapus kata ‘pemberdayaan’ – dan fokus pada daya sebagai gantinya
Issue #002 Mengapa kita perlu menghapus kata ‘pemberdayaan’ – dan fokus pada daya sebagai gantinya
Issue #002 Mengapa kita perlu menghapus kata ‘pemberdayaan’ – dan fokus pada daya sebagai gantinya
Issue #002 Mengapa kita perlu menghapus kata ‘pemberdayaan’ – dan fokus pada daya sebagai gantinya
Issue #002 Mengapa kita perlu menghapus kata ‘pemberdayaan’ – dan fokus pada daya sebagai gantinya
Issue #002 Mengapa kita perlu menghapus kata ‘pemberdayaan’ – dan fokus pada daya sebagai gantinya
Issue #002 Mengapa kita perlu menghapus kata ‘pemberdayaan’ – dan fokus pada daya sebagai gantinya
Issue #002 Mengapa kita perlu menghapus kata ‘pemberdayaan’ – dan fokus pada daya sebagai gantinya
Issue #002 Mengapa kita perlu menghapus kata ‘pemberdayaan’ – dan fokus pada daya sebagai gantinya
Issue #002 Mengapa kita perlu menghapus kata ‘pemberdayaan’ – dan fokus pada daya sebagai gantinya
Issue #002 Mengapa kita perlu menghapus kata ‘pemberdayaan’ – dan fokus pada daya sebagai gantinya
Issue #002 Mengapa kita perlu menghapus kata ‘pemberdayaan’ – dan fokus pada daya sebagai gantinya
Issue #002 Mengapa kita perlu menghapus kata ‘pemberdayaan’ – dan fokus pada daya sebagai gantinya
Issue #002 Mengapa kita perlu menghapus kata ‘pemberdayaan’ – dan fokus pada daya sebagai gantinya
Issue #002 Mengapa kita perlu menghapus kata ‘pemberdayaan’ – dan fokus pada daya sebagai gantinya
Issue #002 Mengapa kita perlu menghapus kata ‘pemberdayaan’ – dan fokus pada daya sebagai gantinya
Issue #002 Mengapa kita perlu menghapus kata ‘pemberdayaan’ – dan fokus pada daya sebagai gantinya
Issue #002 Mengapa kita perlu menghapus kata ‘pemberdayaan’ – dan fokus pada daya sebagai gantinya
Issue #002 Mengapa kita perlu menghapus kata ‘pemberdayaan’ – dan fokus pada daya sebagai gantinya
Issue #002 Mengapa kita perlu menghapus kata ‘pemberdayaan’ – dan fokus pada daya sebagai gantinya
Issue #002 Mengapa kita perlu menghapus kata ‘pemberdayaan’ – dan fokus pada daya sebagai gantinya
Issue #002 Mengapa kita perlu menghapus kata ‘pemberdayaan’ – dan fokus pada daya sebagai gantinya
Issue #002 Mengapa kita perlu menghapus kata ‘pemberdayaan’ – dan fokus pada daya sebagai gantinya
Issue #002 Mengapa kita perlu menghapus kata ‘pemberdayaan’ – dan fokus pada daya sebagai gantinya
Issue #002 Mengapa kita perlu menghapus kata ‘pemberdayaan’ – dan fokus pada daya sebagai gantinya
Issue #002 Mengapa kita perlu menghapus kata ‘pemberdayaan’ – dan fokus pada daya sebagai gantinya
Issue #002 Mengapa kita perlu menghapus kata ‘pemberdayaan’ – dan fokus pada daya sebagai gantinya
Issue #002 Mengapa kita perlu menghapus kata ‘pemberdayaan’ – dan fokus pada daya sebagai gantinya
Issue #002 Mengapa kita perlu menghapus kata ‘pemberdayaan’ – dan fokus pada daya sebagai gantinya
Issue #002 Mengapa kita perlu menghapus kata ‘pemberdayaan’ – dan fokus pada daya sebagai gantinya
Issue #002 Mengapa kita perlu menghapus kata ‘pemberdayaan’ – dan fokus pada daya sebagai gantinya
Issue #002 Mengapa kita perlu menghapus kata ‘pemberdayaan’ – dan fokus pada daya sebagai gantinya
Issue #002 Mengapa kita perlu menghapus kata ‘pemberdayaan’ – dan fokus pada daya sebagai gantinya
Issue #002 Mengapa kita perlu menghapus kata ‘pemberdayaan’ – dan fokus pada daya sebagai gantinya
Issue #002 Mengapa kita perlu menghapus kata ‘pemberdayaan’ – dan fokus pada daya sebagai gantinya
Issue #002 Mengapa kita perlu menghapus kata ‘pemberdayaan’ – dan fokus pada daya sebagai gantinya
Issue #002 Mengapa kita perlu menghapus kata ‘pemberdayaan’ – dan fokus pada daya sebagai gantinya
Issue #002 Mengapa kita perlu menghapus kata ‘pemberdayaan’ – dan fokus pada daya sebagai gantinya
Issue #002 Mengapa kita perlu menghapus kata ‘pemberdayaan’ – dan fokus pada daya sebagai gantinya
Issue #002 Mengapa kita perlu menghapus kata ‘pemberdayaan’ – dan fokus pada daya sebagai gantinya
Issue #002 Mengapa kita perlu menghapus kata ‘pemberdayaan’ – dan fokus pada daya sebagai gantinya
Issue #002 Mengapa kita perlu menghapus kata ‘pemberdayaan’ – dan fokus pada daya sebagai gantinya
Issue #002 Mengapa kita perlu menghapus kata ‘pemberdayaan’ – dan fokus pada daya sebagai gantinya
Issue #002 Mengapa kita perlu menghapus kata ‘pemberdayaan’ – dan fokus pada daya sebagai gantinya
Issue #002 Mengapa kita perlu menghapus kata ‘pemberdayaan’ – dan fokus pada daya sebagai gantinya
Issue #002 Mengapa kita perlu menghapus kata ‘pemberdayaan’ – dan fokus pada daya sebagai gantinya
Issue #002 Mengapa kita perlu menghapus kata ‘pemberdayaan’ – dan fokus pada daya sebagai gantinya
Image of Brunette woman, whose face is obscured by ripped paper, the word 'empowered' covers her eyes and crossed out with felt tip pen © Michelle Thompson, 2022

Mengapa kita perlu menghapus kata ‘pemberdayaan’ – dan fokus pada daya sebagai gantinya

Ladies, apakah kalian merasa berdaya? Tentunya kuharap demikian, karena selama satu dekade terakhir ini perusahaan-perusahaan multinasional telah bekerja siang dan malam berusaha menemukan cara baru untuk memberdayakan perempuan. Brand deodoran menjalankan kampanye yang memberdayakan perempuan agar merasa nyaman dengan kulit mereka sendiri. Victoria’s Secret berjanji untuk menjadi “pendukung utama wanita di dunia”. Hotel Zena yang mewah yang baru diluncurkan di Washington DC, didedikasikan untuk pemberdayaan perempuan dan menampilkan karya seni yang terbuat dari tampon dan koktail seharga $16 yang dinamai Empowermint. Dalam beberapa tahun terakhir ini, Feminisme Perusahaan dan budaya self-help telah mengubah pemberdayaan menjadi taktik pemasaran. Beli sampo ini, ini akan membuat kalian berdaya! Beli mobil ini, ini akan membuat kalian berdaya! Beli lilin aroma seharga $75 ini, ini akan membuat kalian berdaya! Pemberdayaan telah menjadi kata kunci yang menjengkelkan, tetapi, yang lebih penting, budaya pemberdayaan telah menjadi cara tersembunyi yang berbahaya untuk memperkuat struktur kekuasaan yang ada. Perempuan Berdaya™ yang modern tidak mempertanyakan kapitalisme; ia membeli sendiri barang-barang mahal sebagai bentuk perawatan diri. Ia tidak peduli dengan ketidaksetaraan struktural: selama ia bisa menemukan jalan ke posisi tertinggi di perusahaan, ia nyaman dengan status quo. Budaya pemberdayaan berusaha mengubah individu, bukan sistem. Pikirkan tentang semua nasihat yang diberikan kepada perempuan tentang kepemimpinan dalam beberapa tahun terakhir. Jika kalian ingin maju, demikian dikatakan kepada kami, kalian harus menjawab tantangan. Kalian harus angkat bicara. Kalian harus berhenti meminta maaf. Jika kalian berusaha menyesuaikan diri dengan sistem yang dibuat oleh kaum laki-laki, dan jika kalian bertindak seperti laki-laki, maka kalian mungkin akan diberi tempat di antara mereka. Itulah arti kata pemberdayaan, yaitu seseorang memberi kalian kekuatan atau membuat kalian dapat melakukan sesuatu; kata ini menunjukkan bahwa kalian ternyata tidak mampu menolong diri kalian sendiri. Bukannya membantu memajukan feminisme, budaya pemberdayaan malah menahan lajunya. Budaya pemberdayaan berfokus pada pencapaian individu, bukan kesetaraan struktural. Sekarang adalah saatnya untuk mengubah hal itu: berhentilah berbicara tentang pemberdayaan dan fokus pada daya. Aku baru-baru ini mewawancarai Amina Mohammed, wakil sekretaris jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa. “Sifat merendahkan yang kita hadapi di arena kepemimpinan adalah narasi yang harus kita ubah,” ujarnya padaku. “Masih ada pemikiran yang beranggapan bahwa [daya adalah] sesuatu yang diberikan kepada kita karena kemurahhatian. Tapi tahukah kalian? Daya itu tidak pernah diberikan, tapi diambil.” Jadi, apa yang membuatku masih merasa penuh harapan? Alih-alih bersandar pada struktur kekuasaan yang beracun, generasi baru pemimpin perempuan cenderung bergerak keluar – mereka bertekad untuk memimpin dengan caranya sendiri. “Kita tidak perlu meminta izin atau menunggu undangan untuk memimpin,” kata anggota kongres asal Minnesota Ilhan Omar, saat ditanya apa yang akan ia katakan kepada wanita kulit berwarna yang frustrasi dengan komentar-komentar yang berusaha meminimalkan dampak yang mereka buat. “Ada perjuangan tanpa henti dengan orang-orang yang memiliki daya tentang berbagi daya tersebut,” katanya. “Usaha kita bukanlah meminta bagian dari daya tersebut, namun mencoba merebutnya dan mengembalikannya kepada orang-orang.” Keinginan untuk berbagi daya dan bukan memberdayakan diri sendiri? Sepertinya itulah arti feminisme yang sesungguhnya. Arwa Mahdawi adalah kolumnis Guardian yang berbasis di New York dan penulis Strong Female Lead: Lessons From Women In Power
← Back

Thank you for subscribing. Please check your email for confirmation!
Invitation sent successfully!

Please check your email for a reset password link!

Subscribe