Service95 Logo
Issue #003 Kenapa Orang Asia Tidak Menonjol dalam Budaya Inggris? 
Issue #003 Kenapa Orang Asia Tidak Menonjol dalam Budaya Inggris? 
Issue #003 Kenapa Orang Asia Tidak Menonjol dalam Budaya Inggris? 
Issue #003 Kenapa Orang Asia Tidak Menonjol dalam Budaya Inggris? 
Issue #003 Kenapa Orang Asia Tidak Menonjol dalam Budaya Inggris? 
Issue #003 Kenapa Orang Asia Tidak Menonjol dalam Budaya Inggris? 
Issue #003 Kenapa Orang Asia Tidak Menonjol dalam Budaya Inggris? 
Issue #003 Kenapa Orang Asia Tidak Menonjol dalam Budaya Inggris? 
Issue #003 Kenapa Orang Asia Tidak Menonjol dalam Budaya Inggris? 
Issue #003 Kenapa Orang Asia Tidak Menonjol dalam Budaya Inggris? 
Issue #003 Kenapa Orang Asia Tidak Menonjol dalam Budaya Inggris? 
Issue #003 Kenapa Orang Asia Tidak Menonjol dalam Budaya Inggris? 
Issue #003 Kenapa Orang Asia Tidak Menonjol dalam Budaya Inggris? 
Issue #003 Kenapa Orang Asia Tidak Menonjol dalam Budaya Inggris? 
Issue #003 Kenapa Orang Asia Tidak Menonjol dalam Budaya Inggris? 
Issue #003 Kenapa Orang Asia Tidak Menonjol dalam Budaya Inggris? 
Issue #003 Kenapa Orang Asia Tidak Menonjol dalam Budaya Inggris? 
Issue #003 Kenapa Orang Asia Tidak Menonjol dalam Budaya Inggris? 
Issue #003 Kenapa Orang Asia Tidak Menonjol dalam Budaya Inggris? 
Issue #003 Kenapa Orang Asia Tidak Menonjol dalam Budaya Inggris? 
Issue #003 Kenapa Orang Asia Tidak Menonjol dalam Budaya Inggris? 
Issue #003 Kenapa Orang Asia Tidak Menonjol dalam Budaya Inggris? 
Issue #003 Kenapa Orang Asia Tidak Menonjol dalam Budaya Inggris? 
Issue #003 Kenapa Orang Asia Tidak Menonjol dalam Budaya Inggris? 
Issue #003 Kenapa Orang Asia Tidak Menonjol dalam Budaya Inggris? 
Issue #003 Kenapa Orang Asia Tidak Menonjol dalam Budaya Inggris? 
Issue #003 Kenapa Orang Asia Tidak Menonjol dalam Budaya Inggris? 
Issue #003 Kenapa Orang Asia Tidak Menonjol dalam Budaya Inggris? 
Issue #003 Kenapa Orang Asia Tidak Menonjol dalam Budaya Inggris? 
Issue #003 Kenapa Orang Asia Tidak Menonjol dalam Budaya Inggris? 
Issue #003 Kenapa Orang Asia Tidak Menonjol dalam Budaya Inggris? 
Issue #003 Kenapa Orang Asia Tidak Menonjol dalam Budaya Inggris? 
Issue #003 Kenapa Orang Asia Tidak Menonjol dalam Budaya Inggris? 
Issue #003 Kenapa Orang Asia Tidak Menonjol dalam Budaya Inggris? 
Issue #003 Kenapa Orang Asia Tidak Menonjol dalam Budaya Inggris? 
Issue #003 Kenapa Orang Asia Tidak Menonjol dalam Budaya Inggris? 
Issue #003 Kenapa Orang Asia Tidak Menonjol dalam Budaya Inggris? 
Issue #003 Kenapa Orang Asia Tidak Menonjol dalam Budaya Inggris? 
Issue #003 Kenapa Orang Asia Tidak Menonjol dalam Budaya Inggris? 
Issue #003 Kenapa Orang Asia Tidak Menonjol dalam Budaya Inggris? 
Issue #003 Kenapa Orang Asia Tidak Menonjol dalam Budaya Inggris? 
Issue #003 Kenapa Orang Asia Tidak Menonjol dalam Budaya Inggris? 
Issue #003 Kenapa Orang Asia Tidak Menonjol dalam Budaya Inggris? 
Issue #003 Kenapa Orang Asia Tidak Menonjol dalam Budaya Inggris? 
Issue #003 Kenapa Orang Asia Tidak Menonjol dalam Budaya Inggris? 
Issue #003 Kenapa Orang Asia Tidak Menonjol dalam Budaya Inggris? 
Issue #003 Kenapa Orang Asia Tidak Menonjol dalam Budaya Inggris? 
Issue #003 Kenapa Orang Asia Tidak Menonjol dalam Budaya Inggris? 
Issue #003 Kenapa Orang Asia Tidak Menonjol dalam Budaya Inggris? 
Issue #003 Kenapa Orang Asia Tidak Menonjol dalam Budaya Inggris? 

All products featured are independently chosen by the Service95 team. When you purchase something through our shopping links, we may earn an affiliate commission.

Book cover, East Side Voices by Helena Lee

Kenapa Orang Asia Tidak Menonjol dalam Budaya Inggris? 

Hal ini berawal, seperti semua ide bagus lainnya, di meja makan. Waktu itu September 2019, seminggu setelah menonton film Quentin Tarantino yaitu Once Upon A Time In Hollywood, dan aku merasa marah. Ada adegan di mana aktor legendaris Bruce Lee (diperankan oleh Mike Moh) digambarkan melontarkan bualan omong kosong filosofis, meneriakkan seruan jurus bela diri murahan, dan dipermalukan oleh karakter yang dimainkan Brad Pitt, Cliff Booth. Dalam film yang didedikasikan sebagai penghormatan terhadap nama-nama besar di Hollywood (termasuk Roman Polanski), satu-satunya tokoh sejarah non-kulit putih itu menjadi bahan tertawaan dan itu adalah, bagi penonton yang waktu itu ada bersamaku, bagian paling lucu dari film tersebut.   Aku tercengang dengan stereotip ras ini, yang parahnya tak disadari oleh semua orang di sekitarku. Aku mencoba mencarinya di media, menelusuri Google dengan penuh kekalutan untuk melihat apakah ada orang lain yang memiliki pandangan yang sama soal ini. Berbagai ulasan mengenai film tersebut hampir semuanya positif, memuji visi sang sutradara. Ada satu atau dua artikel di AS yang mempertanyakan mengapa adegan itu menjadi yang paling kontroversial dalam film tersebut. Tetapi tidak ada kemarahan.   Aku mulai memikirkan penggambaran orang Asia Timur dan Asia Tenggara lainnya – mulai dari Lilly Onakuramara yang nyaris bisu di Pitch Perfect, tokoh yang dirancang untuk ditertawakan (dengan karakter yang datar), hingga tidak adanya wajah Asia di drama TV Inggris. Kalau pun ada, mereka adalah kutu buku atau penjahat tanpa nama: alat plot yang mudah dilupakan. Kemudian pandemi terjadi, Presiden Trump yang saat itu menjabat berbicara soal ‘kung-flu’ dan orang Asia menjadi target kejahatan berbasis kebencian – konsekuensi yang sangat nyata dari tidak adanya keterwakilan budaya.    Jurnalis dan presenter Elaine Chong mengirimiku sebuah artikel karya Dr Diana Yeh, yang menulis bahwa kaum “’Tionghoa Inggris’ [istilah yang digunakan untuk mereka yang ‘terlihat’ seperti orang Tionghoa] dapat, mengutip Salman Rushdie, ‘terlihat tapi tidak kelihatan’ – hadir dalam tatanan sosial dan budaya tetapi tidak tampak dalam imajinasi sosial dan budaya.” Mengapa kami tidak direpresentasikan dengan cara yang bermakna? Seolah-olah orang Inggris keturunan Asia Timur dan Asia Tenggara adalah bagian anonim dari budaya Inggris.   Maka dari itu, di meja dapur hari itu, aku memutuskan perlu ada perubahan pada stereotip budaya tersebut untuk memperkuat suara masyarakat diaspora yang tinggal di Inggris – yang kaya akan cerita, keragaman, dan perbedaan-perbedaan kecil. Aku ingin menghilangkan gagasan salah bahwa orang-orang dari Asia adalah sekumpulan orang-orang yang serupa dengan pemikiran yang sama. Oleh karena itu aku meluncurkan East Side Voices, dengan harapan bisa menghubungkan orang-orang Inggris Asia yang membentuk lanskap budaya kita – seperti desainer Rejina Pyo dan novelis Sharlene Teo – dengan mereka yang memiliki kekuatan untuk mengarahkan cara kita memandang dunia: agen casting, sutradara, produser, penulis, jurnalis.   Apa yang awalnya hanya sebuah pertemuan bulanan di Standard Hotel di London, kini telah berkembang menjadi sebuah buku. Ada cerita-cerita yang membara dalam halaman-halaman itu. Romalyn Ante, penyair dan perawat Filipina, menggambarkan keadaan buruk yang dialami oleh beberapa generasi perawat NHS (Layanan Kesehatan Nasional Britania Raya) di keluarganya. Katie Leung bercerita tentang caranya berbaur di Skotlandia dan di set film Harry Potter. Ada penjelasan Zing Tsjeng tentang rasisme yang telah lama ada di negeri ini, sajak Naomi Shimada untuk neneknya yang berasal dari Jepang, sejarah keluarga Gemma Chan yang mengungkapkan perjuangan untuk kesetaraan… Unik dan indah, namun universal; ini adalah cerita-cerita yang kuharap akan menantang, menyulitkan, mencerahkan, relevan, tetapi yang paling penting, membangkitkan empati pada siapa pun yang membacanya.   Helena Lee adalah penulis berbasis di London dan editor feature di Harper’s Bazaar. Bukunya, East Side Voices: Essays Celebrating East & Southeast Asian Identity In Britain, kini sudah terbit 

Read More

SUBSCRIBE TO SERVICE95 NEWSLETTERS

Subscribe